Dibuat oleh AI
Ini bukan kisah saya tapi kisah kita semua, kisah tanah air, kisah bangsa dan suku diatas tanah merah putih. Indonesia adalah negara yang terbentuk dari berbagai suku, bahasa, budaya, dan pulau-pulau yang disatukan oleh BHINEKA TUNGGAL IKA. Selain itu, senyuman kita sebagai senyuman bangsa juga disatukan oleh ekspedisi yang ramah, murah, cepat, tepat dan efisien serta efektif. Ekspedisi yang menjakau seluruh Indonesia hingga ke pelosok negeri.
x

Ada banyak orang yang terpaksa meninggalkan rumahnya dan membawa harapan dan senyuman penuh cinta ke seberang pulau. Aku adalah salah satunya, seorang anak dari suku Mbojo Nusa Tenggara Barat yang membawa harapan keluarga untuk menempuh pendidikan di kota pendidikan dan kota budaya, Yogyakarta. Besar harapan keluarga agar aku bisa menyelesaikan studi dengan baik dan mendapatkan pekerjaan yang layak agar tidak menjadi buruh tani seperti ayah dan ibu. 

Pada suatu malam di 0 km Malioboro, aku menghadiri acara budaya yang menampilkan berbagai jenis kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia. Aku sangat tersentuh melihat kerumunan orang yang datang dari berbagai daerah baik dari Barat, Timur, maupun Utara.

 "Aku tidak sendiri"

Akan melihat wajah muda yang membawa harapan bagi keluarga mereka, harapan bangsa, dan harapan negara. Mereka ada generasi emas yang sedang berusaha untuk menjadi yang terbaik dengan cara mereka sendiri. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Asa yang dari keluarga kaya, sari keluarga menengah, dan aku yakin mereka ada yang seperti aku yang hanya mengandalkan beasiswa dan harapan keluarga 

"Aku tidak sendiri"

Setelah acara itu, perasanku lebih baik dari yang sebelumnya karena terlalu minder dengan kekuranganku dibandingkan dengan teman-teman yang ada di dalam kelasku. Teman-temanku mengunakan gawai yang terbaru sementara aku mengunakan gawai lama yang bisa dibilang sudah cukup usang untuk digunakan di reuang kuliah. Salah satu teman fakultasku cukup prihatin dengan keadaanku.

"Aku punya gawai yang gak kepakai di rumah, gawaimu tular ajah dengan punyaku di rumah daripada gak kepakai"

Aku seketika teesiam menatap temanku dan aku tidak menduga dia akan menawarkan hal itu 

"Gak apa-apa ini masih bagus kok, masih bisa dipakai buat catat-catat sama hal lainnya"

Dia terdiam sambil main gawainya, entah apa yang dipikirkan, tapi otakku berkecamuk memikirkan apakah dia akan tersinggung dengan penolakanku dan apakah caraku menolaknya kurang sopan. Entalah aku tidak tau tapi aku sudah melakukan hal yang baik menurutku yang diajarkan oleh orang tuaku agar tidak mudah menerima bantuan orang lain apalagi bantuan itu memiliki harga.

"Hallo, mama, bisakah mama mengirimkan saya gawai lama saya ke sini?"

Ha? Ternyata dia sedang menelepon orang tuannya untuk meminta gawai lama a dikirim ke Jogja. Aku tidak tau apa yang dikatakan ibunya selama mereka berbicara, aku hanya bisa menerka setelah kalimat pertama temanku. Mungkin seperti ini 

"Untuk apa, bukankah kamu sudah punya gawai baru, apakah rusak?" 

Terkaan aku ini diambil dari jawaban temanku

"Tidak Ma, aku ingin memberikannya ke temanku soalnya punyanta rusak dam blum dapet kiriman dari rumah, kasihan mah coba itu aku, Mama pasti kasihan kan?"

Diapun hening mendengarkan suara Mamanya yang tak bisa aku terka2 lagi apa yang diucapkan oleh Mamanya. 

"Kirim pakai JNE ajah Ma, yang paket express biar cepat sampai, biar besok langsung sampai, sama satu lagi jangan lupa pakai asuransi ya Ma, soalnya barang electronik nanti kalo rusak atau hilang bisa diganti"

Sebenarnya ini bukan kalimat fullnya sih karena ada banyak diksi yang tidak aku pahami dari bahasa ibu yang digunakan oleh temanku. Temanku setelah menelpon ibunya ia pamit mau kursus bahasa Mandarin

"Aku tidak sendiri"

Jam 8:10, aku tergesa-gesa menuju ruang A12 gedung Sastra untuk mengikuti kelas Teori Sastra dari Prof. Faruk. Ini kali pertama aku tergesa-gesa mengejar waktu 15 menit toleransi keterlambatan selama kuliah. Sesampainya di kelas, entah apa yang terjadi teman-teman yang mengambil kelas itu pada keluar dari kelas "apa aku salah kelas?" Tanyaku dalam hati, tapi mereka semua temanku di kelas yang sama Minggu lalu kelas Teori Sastra.

"Kok, pada pulang?" 

Tanyaku pada salah satu temanku

"Prof, bilang dia gak bisa hadir karena harus menguji skripsi hari inidan dia bilang lupa ngabari, yaaa seperti biasalah kaya gak tau prof ajah"

Ujar temanku dengan gaya khasnya menegaskan kekesalannya pada Prof yang sering tiba-tiba membatalkan jadwa kuliah. Aku hanya bisa tertawa menikmati kenyataan yang disampaikan oleh temanku tersebut. Sebenarnya hal ini udah sering terjadi dari generasi ke generasi katanyasih semenjak dosen atau prof ini jadi prof. Yaaa, mungkin karena udah terlalu pinter kali ya. Tapi banyak juga yang mengagumi prof karena kepintarannya dan banyak juga yang bilang sulit memahami materi beliau karena cara penyampaiannya yang sangat santai dan penuh dengan teori. Kalo aku boleh bilang prof itu ibarat penceramah. Aku salah satu yang mengagumi beliau mungkin karena aku cukup paham apa yang dijelaskan beliau terutama prihal dunia pararel antara karya sastra dan penulis sastra. Kalo aku boleh simpulkan beliau itu seorang kritikus sastra dan sastrawan condong ke sosiologi sastra dan Filsafat.

Tanpa disadari karena aku sedikit melamun berjalan menuju Kantin Sastra, temanku yang sering nongkrong denganku di kantin sudah berada di sampingku dan membuatku kaget karena ia menepuk bahuku.

"Hei" sambil menepuk bahu ku dengan nada yang lumayan keras.

"Asu" sautku sambil kaget menoleh ke arahnya.

"Sorry, kamu melamun ya gak biasanya kamu kaget"

"Tidak" ngelakuin sedikit kikuk

"BDW, sudah bisa bahasa Jawa nih" ujarnya sambil sedikit tertawa meledek ucapan spontanku saat kaget.

"Hanya itu yang aku ingat" ujarku

Tak terasa aku dan temanku sampai Kantin Sastra, kami bergegas ke tempat duduk favorit kami di kantin Bu Jule. Ini beneran kantin Bu Jule bukan Jule yang viral ya. Temanku langsung memesan makanan favoritnya dan aku seperti biasa hanya memesan makanan termurah di kantin itu.

"Biasa ya Bu" 

Ujar ku ke ibu kantin disambut anggukan oleh ibu kantin bertanda mengerti dan siap dibuatkan. Sementara temanku masih berpikir minuman apa yang harus ia pesan untuk saat itu karena di kantin itu ada banyak varian minuman baik dari jus, kopi, dan minuman kekinian yang sedang trending. 

"Kok, kamu tidak ngelas, bukannya kamu ada kelas pagi? Tanya temanku

"Iya nih, seharusnya ada kelas tapi dosennya sedang uji skripsi kalo gak salah" jelasku pada temanku

"Nih, paket gawai dari rumahku yang dikirim ibuku lewat JNE. Cepat kan sampainnya?" 

Seketika aku canggung terhadap temanku karena aku tidak terbiasa menerima pemberian orang lain apalagi barang yang mahal. Aku berusaha menolah dengan berbagai alasan tapi temanku memiliki 2 seribu kali lipat cara dan penjelasan untuk memberikan itu ke aku. Aku membuka paket yang dibungkus Barber Wrap hitam yang bertuliskan perusahaan ekspedisi JNE dan keterangan pengiriman dan penerimaan dan alamat penerima. Aku semakin canggung terhadap temanku karena ini bukan gawai bekas tapi gawai baru bungkusnya belum dibuka.

"Ini bukannya baru?" Tanyaku dengan perasaan canggung 

"Iya, itu gawai baru, karena kata ibuku gak baik ngasih yang bekas ke orang lain apalagi untuk kebutuhan seperti pendidikan"

Aku semakin gak enak dengan temanku dan berusaha mengembalikannya tapi dia kekeh menolak dan berusaha meyakinkan aku itu bukan dari dia tapi dari ibunya jadi kalo mau menolak itu harus ke ibunya langsung. Aku berjanji aku gak akan pernah melupakan dia dan ibunya dan jika suatu saat nanti mereka membutuhkan aku aku akan ada secepat kilat di samping mereka secepat JNE mengirimkan paket ini. Aku akan selalu ada seperti JNE yang selalu ada untuk setiap orang yang memerlukan kecepatan, ketepatan dan kenyamanan setiap saat. 

Aku hampir meneteskan air mata karena keberuntunganku mendapatkan teman yang baik. Cerita ini belum selesai, cerita ini akan berlanjut sama seperti JNE yang akan terus berjalan bersama setiap orang. Sama seperti JNE yang akan selalu menuliskan perjalanan cinta, kerinduan, kesetiaan dan dan meyakinkan setiap orang melalui tinta jalur ekspedisi tiada henti hingga ke pelosok-pelosok tanpa batas.


BERSAMBUNG......

#jne #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama  #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita